A. Misteri
Kolam Pemandian Putri Nurul A’la
Di Paya Meuligoe,Perlak.
Situs
Sejarah Pada Masa Akhir Abad Ke 7
Putri Nurul A’la adalah Putri Sulthan Kerajaan Islam Perlak ke 11, yaitu
Sulthan Abdullah syah (th. 1078 – 1108 M).
Putri Nurul A’la lahir pada tahun
1091 M, hanya berselang dua tahun dari kelahiran abangnya Sulthan Ahmadsyah.
Kolam Pemandian Putri Nurul
A’la terletak persis di
tengah-tengah desa Paya Meuligoe,Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur.Kolam tersebut diapit
oleh dua bukit dari arah timur dan barat Laksana
Kepulauan Indonesia yang diapit oleh dua benua.
Bukit disebelah barat yang terletak
ditepi bibir Kolam konon merupakan
bukit buatan.Bukit ini ditimbun pada masa Kesulthanan Perlak Ke 11
,Sulthan Abdullah syah yang merupakan
ayah kandung dari Putri Nurul A’la.
Inilah lokasi Bekas Meuligoe (Istana) Putri Nurul A'la. Pada
Kerajaan Islam Perlak
ke -11 dan 12. Di Paya Meuligoe , Kec .Perlak. Kab.Acehb Timur. (Foto.Sentral
Informasi Bandar
khalifahIsinba.17-04-2015
Posisi gambar
tepat di atas Bukit Meuligoe Putri Nurul A'la. Pemandangan ke arah Utara
hamparan sawah dan lingkaran bukit membentang. Suatu Lokasi yang amat strategis
untuk sebuah Kerajaan yang dibentengi oleh bukit-bukitdisekelilingnya. (Foto
.Sentral Informasi BandarkhalifahIsinba),17-04-2015.
_________________________________________________________________________
Sulthan Abdullah menimbun bukit yang
berbentuk tempurung kelapa ini khusus
untuk putri tercintanya yang sudah mulai
menanjak remaja.
Tiang
meuligoe Tuan Putri Nurul A’la dari kayu merbau besar yang berbentuk persegi
delapan menurut cerita orang-orang tua
yang pernah melihat tiang meuligoe tersebut ketika sudah terjun ke kolam.Tiang
Meuligoe tersebut masih dapat dilihat jelas sampaitahun 1950 s/d 1960-an.Banyak
warga setempat memanfaatkannya untuk mengambil ikan rawa yang terdapat dibawah
dan samping kiri-kanan tiang Meuligoe. Tiang Meuligoe tersebut pada saat
sekarang ini diduga kuat telah tertimbun didalam kolam itu sendiri.
Inilah
bekas kolam Pemandian Putri Nurul A’la di Paya
Meuligoe- Peureulak ,Aceh Timur.
Dipugar/digali
tgl.29 September 2013. Dalam gambar.
Ketua Sentral Informasi Bandarkhalifah|sinba
a.Kolam Putri Nurul A’la
ditinjau dari sudut geografis.
Selain diapit oleh dua bukit,kolam Putri Nurul A’la juga disuguhkan pemandangan/panorama alam
sekitar yang cukup terpesona.Hamparan sawah yang membentang disebalah utara dan
timur yang dibelah oleh jalan raya sebagai sarana perhubungan sebagai pintu
masuk dari dan sekitarnya,sungai Perlak disebelah barat bukit Meuligoe serta
dalam radius 3-4 km,dikelilingi oleh bukit-bukit yang membentuk lingkaran
benteng pertahanan kerajaan.
Bila diamati dengan cermat letak geografis Bukit Meuligoe
akan memberikan kesan kepada kita bahwa tempat ini pernah berdiri kerajaan
besar yang punya pengaruh luas kepada dunia luar.
Memang benar Bukit Geutoe/Paya Meuligoe/Bandarkhalifah
sebagai Ibukota Kerajaan Perlak dibangun
kembali oleh Sulthan Abdullahsyah setelah tahun pengangkatannya sebagai Sulthan
ditahun 1078 M.Kerajaan Perlak seperti diketahui pernah dilanda perang saudara
sebanyak tiga kali.Nama Ibu Kota Kerajaan Perlak tetap bernama Bandarkhalifah.
Letak lokasi
Istana Kerajaan Islam Perlak pada masa Sulthan Abdullahsyah(1078- 1108 M) kira-
kira 500 M kearah barat dari Bukit Meuligoe.Tepatnya dipinggir aliran sungai Perlak. Bukan lagi dilokasi letak Kerajaan raja
pertama,kedua,ketiga dan ke empat.
Makam Sulthan Kerajaan Islam
Perlak ke 11,Sulthan Abdullahsyah( 1078 – 1108 M).
Foto :
Sentral Informasi Bandarkhalifah|sinba. 07 November 2013.
Lokasi ini
bernama Buket Geutou,di pinggir sungai Perlak.Desa Paya Meuligoe,Kec.Perlak.
Gejolak
dari perselisihan paham
antara Sunni dan
Syiah yang berujung
Pada pertumpahan darah
terjadi pertama kali pada akhir pemerintahan Sulthan Abbas syah tahun
913 M. Kekuasaan Sulthan Ali Mughayat syah masih kuat pada waktu itu,sehingga
beliau berhasil dapat meredam pemberontak dari golongan Sunni,kendati
pelantikan Sulthan ke 4 negeri Perlak ini tertunda selama 3 tahun. Akan tetapi
pada akhir masa pemerintahan Sulthan Ali Mughayat syah tahun 918 M, pengaruh
golongan Sunni semakin kuat yang dipelopori oleh Meurah-meurah yang berasal
dari keturunan asli Perlak (Meurah Syahril Nuwi).
Sulthan Malik Abdullahsyah kawin dengan
Syarifah Azizah dari
ketununan Sayed / Bani Hasyim yang
bermukim di Bandarkhalifah. Bersamaan dengan dipindahkan kembali Kerajaan Islam Perlak dari Blang Pirak (Krueng Tuan) ke Paya
Meuligoe (Bandarkhalifah) tahun 1078 M.
b.Misteri Kolam Puteri
Nurul A’la
Pada tahun 1091 M Putri Nurul A’la lahir. Sulthan Abdullahsyah sangat gembira
dengan lahir putrinya.Dengan gerak yang spontan diberi nama “ Nurul A’la,,
artinya Cahaya Yang Tinggi. Karena ketika Putri Nurul A’la lahir, ruangan dalam
istana mendadak terang benderang seperti cahaya lampu. Suatu keanehan pertama
yang ditunjukkan bayi perempuan ini.
Sulthan juga memberi kado khusus menyambut
kelahirannya,dengan membangun sebuah istana untuk peristirahatan Tuan Putri
yang dinamakan Meuligoe Putri Nurul A’la.
Meuligoe inilah ketika Putri Nurul A’la meninggal dunia,terjun
kedalam kolam.
Barang-barang milik Tuan Putri berupa perhiasan dari emas,barang pecah
belah serta barang-barang
lainnya ikut bersama Meuligoe Tuan Putri.
Hingga sekarang kebanyakan warga percaya bahwa kolam Putri Nurul A’la masih
menyimpan benda-benda sejarah yang tak ternilai harganya.Salah satu diantaranya
adalah perhiasan dari emas. Dalam ejaan Aceh disebut ‘’Ceupeng,, emas sebesar
piring makan ukurun kecil yang
dipakai oleh putri-putri kerajaan tempo
dulu.
Di akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an , beberapa warga
yang masih keturunan sayid yang bermukim di Bandarkhalifah dan Paya Meuigoe
menggali kolam tersebut dengan menggunakan alat galian sederhana,berupa cangkul
dan skrop.Tapi karena proses penggalian
memakan waktu yang lama ,maka mareka
harus menghentikan penggalian disebabkan
mareka kekurangan dana.
Menurut cerita orang tua-tua, pada Zaman
Belanda,kolam ini pernah digali oleh warga dan airnya disedot sampai habis
denga cara memagari dengan bedeng besar supaya tidak dikikis air. Benar saja
para warga mendapati Cuping emas yang dimaksud milik Putri Nurul A’la.Tapi apa
lacur,salah seorang warga yang ikut bekerja berkata tidak senonoh ketika Cuping
emas sudah berada ditangan. Spontan saja ikan gabus besar tiba-tiba datang dan
mendobrak bedeng penyangga air, sehingga air rawa tumpah ruah kembali.Dalam keadaan
kaget,Cuping emas ditangan para pekerja
tadi jatuh kembali ke air dan tidak
pernah ditemukan lagi.
Masih menurut cerita orang tua-tua, setengah dari pangkal tiang Meuligoe Tuan Putri tersandar di bibir kolam,
dan setengah lagi
tercebur kedalam kolam. Disinilah warga setempat mencari
ikan rawa yang
banyak berdiam dibawah tiang Meuligoe.
Pemandangan tiang Meuligoe ini masih dapat dilihat jelas sampai tahun
1960-an.
Tapi lama kelamaan,seiring dengan
perjalan waktu,tiang Meuligoe tersebut makin turun kebawah lalu
terbenam kedasar kolam hingga
tidak dapat dilihat
lagi sampai sekarang.
Keanehan terakhi
dari Meuligoe Putri Nurul
A’la sebelum terjun ke kolam
terlebih dahulu
Meuligoe tersebut mengeluarkan suara aneh berupa raungan
keras dimalam hari, sehingga seluruh dayang-dayang penjaga istana terpaksa mengungsi karena
takut.
Apalagi istana
Tuan Putri telah
lama kosong ,karena
Putri Nurul A’la secara
diam – diam meninggalkan
istananya pergi menuju ke Peunaron dan selanjutnya bersembunyi di bukit
Dayang-dayang di Teupin Tualang Reubah
beberapa lama. Ini dilakukan guna menghindari desakan dari Pangeran Prabu
Tapa yang tinggal pada Perguruan Tinggi Islam
Buket Cibrek.
Kemudian Putri Nurul
A’la turun ke Seumanah (Krueng Tuan). Disana Ia
membuat Istana
Dari Batu untuk bertapa. Istana batu
tersebut diperkirakan menampung
puluhan orang.
Ditempat lokasiMeuligoe Tuan Putri,setelah 15 malam
mengeluarka suara- suara aneh,
kadang-kadang suara raungan
keras,Kadang juga suara suling,rebana ,rapa’i atau cahaya terang benderang.
Dan pada kamis malam,bertepatan tanggal,08 Muharram th.533 H.Cuaca gelap gulita, angin ribut, suara gemuruh petir
saling bersahutan dilangit Paya
Meuligoe.Suara Meuligoe Putri Nurul A’la semakin keras. Meuligoe Tuan Putri
berputar-putar di udara dan akhirnya terjun kedalam kolam.Bersamaan dengan
meninggalnya Putri Nurul A’la. Putri Nurul A’la dimakamkan di Krueng Tuan,08
Muharram tahun 533 H.
Bekas kolam
Pemandian Putri Nurul A’la di
desa Paya Meuligoe Kec.Perlak - Aceh Timur sedang dipugar,tanggal. 02- 10-2013.
Posisi terbenamnya Tiang Meuligoe Tuan
Putri tepat pada belokan kekiri,(lihat
gambar).
Foto. Sentral Informasi Bandarkhalifah|sinba. Tanggal. 02-10-2013
Walau sudah berlalu ratusan tahun silam,kolam Putri Nurul
A’la ini masih menyisakan berbagai hal
diluar logika, tapi benar adanya. Pada
konflik Aceh dengan
RI dulu misalnya,
beberapa anggota GAM
yang terjebak ketika operasi TNI secara mendadak ke Paya Meuligoe. Mareka bersembunyi
dipinggir kolam yang hanya ditutupi semak-semak kecil yang tembus pandang dari
jauh dan berjarak hanya 20 M dari jalan
yang dilalui TNI.Tapi mareka semua aman tanpa bisa dilacak.
Perempuan yang mengalami kesulitan saat melahirkan yang bermukim jauh diluar desa Paya Meuligoe.Suaminya datang kekolam
dan mengambil air rawa yang terbilang kotor lantas diberikan kepada sang isteri. Alhamdulillah,
isterinya segera dapat melahirkan dengan
lancar tanpa ada efek lainnya.
Bahkan ada upaya-upaya
dari beberapa warga yang mencoba mengangkat
barang-barang berharga peninggalan
Putri Nurul A’la dari dasar kolam ke daratan dengan menggunakan
ilmu majic. Hal ini sudah berlangsung lama dan masih berlanjut sampai
sekarang. Kebanyakan mareka datang dari luar daerah(luar desa) dan ada juga yang
berasal dari desa setempat sendiri.
Bahkan di sepanjang
sungai Perlak didalam nya banyak
terdapat benda-benda bersejarah yang masih tersisa,baik yang sudah terbenam
kedalam tanah didasar sungai maupun yang masih ada didasar sungai.Di sungai
sepanjang kedai Perlak misalnya,
dinyakini terdapat barang-barang
peninggalan Putri Nurul A’la.Barang-barang peninggalan tersebut tertinggal
ataupun jatuh ketika Putri Nurul A’la menambatkan bahteranya di sungai Blang
Bitra,dekat kedai Perlak sesudah menjemput abangnya di pulau Jawa.Barang-barang
tersebut diduga tertinggal di kapal atau tercecer ke sungai.
Menurut keterangan penyelam yang sering menyelam disekitar aliran
sungai tersebut untuk mencari sisa-sisa barang rongsokan
dan kerang sungai,pernah menemukan
sebuah peti besi yang masih utuh lengkap dengan kunci kuningan dan rantai besar.Tapi aneh nya barang tersebut sering
berpindah -pindah tempat. Padahal
ketika diderek dengan menggunakan alat secara sederhana memakai rantai,peti
tersebut tidak bergerak bahkan rantai derek putus,(sekitar tahun 2000-an)
Barang –barang tersebut ada yang
berpendapat kepunyaan moyang dari Teungku Chik Perlak yang bermukim di desa Tualang sekarang.Tapi
kuat dugaan peti tersebut kepunyaan Putri Nurul A’la.Karena peti besi tersebut
ada kemiripan dengan peti besi yang ada di sepanjang aliran sungai Alue
Meuh,(desa Paya Meuligoe).Berdekatan dengan makam Sulthan Perlak ke11,( Sulthan Ahmadsyah).Peti besi itu
juga punya keanehan yang sama,yaitu berpindah-pindah tempat,tapi kedua peti
besi tersebut tidak pernah meninggalkan
kawasan yang menjadi tempat aslinya. Dan masih banyak kisah-kisah aneh
lainnya yang tak mungkin penulis sebut satu persatu disini
Makam Putri Nurul A’la di Kreung Tuan,Perlak.
Sumber Sentral
Informasi Bandarkhalifah|sinba,tgl.14-05-2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar