Sabtu, 23 Mei 2015

Sentral Informasi Bandarkhalifah|sinba-Blogger- Misteri Kolam Putri Nurul A'la



A. Misteri  Kolam  Pemandian Putri Nurul  A’la  Di Paya  Meuligoe,Perlak.
Situs  Sejarah  Pada Masa  Akhir Abad Ke 7

Putri Nurul A’la adalah Putri Sulthan Kerajaan Islam Perlak ke 11, yaitu Sulthan Abdullah syah (th. 1078 – 1108 M).
Putri  Nurul A’la lahir pada tahun 1091 M, hanya berselang dua tahun dari kelahiran abangnya Sulthan Ahmadsyah.
Kolam  Pemandian  Putri Nurul  A’la terletak  persis di tengah-tengah desa Paya Meuligoe,Kecamatan Peureulak  Kabupaten Aceh Timur.Kolam tersebut diapit oleh dua bukit dari arah  timur  dan  barat  Laksana  Kepulauan  Indonesia yang diapit oleh dua benua.
Bukit disebelah barat  yang terletak  ditepi bibir Kolam konon merupakan  bukit buatan.Bukit ini ditimbun pada masa Kesulthanan Perlak Ke 11 ,Sulthan Abdullah syah yang  merupakan  ayah kandung dari Putri Nurul A’la.                




 
Inilah lokasi  Bekas  Meuligoe (Istana) Putri Nurul A'la.  Pada  Kerajaan  Islam   Perlak  ke -11 dan 12. Di Paya  Meuligoe , Kec .Perlak. Kab.Acehb Timur. (Foto.Sentral Informasi  Bandar khalifahIsinba.17-04-2015
Posisi  gambar  tepat di atas Bukit Meuligoe Putri Nurul A'la. Pemandangan ke arah Utara hamparan sawah dan lingkaran bukit membentang. Suatu Lokasi yang amat strategis untuk sebuah Kerajaan yang dibentengi oleh bukit-bukitdisekelilingnya. (Foto .Sentral Informasi BandarkhalifahIsinba),17-04-2015.
_________________________________________________________________________
Sulthan Abdullah  menimbun bukit yang berbentuk tempurung kelapa  ini khusus untuk putri tercintanya  yang sudah mulai menanjak remaja.
Tiang meuligoe Tuan Putri Nurul A’la dari kayu merbau besar yang berbentuk persegi delapan  menurut cerita orang-orang tua yang pernah melihat tiang meuligoe tersebut ketika sudah terjun ke kolam.Tiang Meuligoe tersebut masih dapat dilihat jelas sampaitahun 1950 s/d 1960-an.Banyak warga setempat memanfaatkannya untuk mengambil ikan rawa yang terdapat dibawah dan samping kiri-kanan tiang Meuligoe. Tiang Meuligoe tersebut pada saat sekarang ini diduga kuat telah tertimbun didalam kolam itu sendiri.

 


Inilah bekas kolam Pemandian Putri Nurul A’la di Paya  Meuligoe- Peureulak ,Aceh Timur.
Dipugar/digali  tgl.29 September 2013.  Dalam  gambar.   Ketua  Sentral   Informasi Bandarkhalifah|sinba

a.Kolam Putri Nurul A’la ditinjau dari sudut geografis.
Selain diapit oleh dua bukit,kolam Putri Nurul A’la  juga disuguhkan pemandangan/panorama alam sekitar yang cukup terpesona.Hamparan sawah yang membentang disebalah utara dan timur yang dibelah oleh jalan raya sebagai sarana perhubungan sebagai pintu masuk dari dan sekitarnya,sungai Perlak disebelah barat bukit Meuligoe serta dalam radius 3-4 km,dikelilingi oleh bukit-bukit yang membentuk lingkaran benteng pertahanan kerajaan.
Bila diamati dengan cermat letak geografis Bukit Meuligoe akan memberikan kesan kepada kita bahwa tempat ini pernah berdiri kerajaan besar yang punya pengaruh luas kepada dunia luar.
Memang benar Bukit Geutoe/Paya Meuligoe/Bandarkhalifah sebagai Ibukota Kerajaan Perlak  dibangun kembali oleh Sulthan Abdullahsyah setelah tahun pengangkatannya sebagai Sulthan ditahun 1078 M.Kerajaan Perlak seperti diketahui pernah dilanda perang saudara sebanyak tiga kali.Nama Ibu Kota Kerajaan Perlak tetap bernama Bandarkhalifah.
Letak lokasi Istana Kerajaan Islam Perlak pada masa Sulthan Abdullahsyah(1078- 1108 M) kira- kira 500 M kearah barat dari Bukit Meuligoe.Tepatnya  dipinggir aliran sungai Perlak.  Bukan lagi dilokasi letak Kerajaan raja pertama,kedua,ketiga dan ke empat.
                                                                                                                                               
Makam Sulthan Kerajaan Islam Perlak ke 11,Sulthan Abdullahsyah( 1078 – 1108 M).
Foto : Sentral Informasi Bandarkhalifah|sinba. 07 November 2013.
   Lokasi ini bernama Buket Geutou,di pinggir sungai Perlak.Desa Paya Meuligoe,Kec.Perlak.                                             


Gejolak      dari      perselisihan     paham      antara     Sunni    dan     Syiah      yang      berujung
Pada pertumpahan darah  terjadi pertama kali pada akhir pemerintahan Sulthan Abbas syah tahun 913 M. Kekuasaan Sulthan Ali Mughayat syah masih kuat pada waktu itu,sehingga beliau berhasil dapat meredam pemberontak dari golongan Sunni,kendati pelantikan Sulthan ke 4 negeri Perlak ini tertunda selama 3 tahun. Akan tetapi pada akhir masa pemerintahan Sulthan Ali Mughayat syah tahun 918 M, pengaruh golongan Sunni semakin kuat yang dipelopori oleh Meurah-meurah yang berasal dari keturunan asli Perlak (Meurah Syahril Nuwi).
Sulthan  Malik   Abdullahsyah kawin  dengan  Syarifah  Azizah  dari  ketununan Sayed /  Bani Hasyim yang bermukim di Bandarkhalifah. Bersamaan dengan dipindahkan kembali Kerajaan Islam  Perlak dari Blang Pirak (Krueng Tuan) ke Paya Meuligoe (Bandarkhalifah)  tahun 1078 M.

b.Misteri Kolam Puteri Nurul  A’la

Pada tahun 1091 M Putri Nurul A’la  lahir. Sulthan Abdullahsyah sangat gembira dengan lahir putrinya.Dengan gerak yang spontan diberi nama “ Nurul A’la,, artinya Cahaya Yang Tinggi. Karena ketika Putri Nurul A’la lahir, ruangan dalam istana mendadak terang benderang seperti cahaya lampu. Suatu keanehan pertama yang  ditunjukkan bayi perempuan ini.
Sulthan juga memberi kado khusus menyambut kelahirannya,dengan membangun sebuah istana untuk peristirahatan Tuan Putri yang dinamakan  Meuligoe Putri  Nurul A’la.
Meuligoe inilah  ketika Putri Nurul A’la meninggal dunia,terjun  kedalam kolam.
Barang-barang milik Tuan Putri berupa perhiasan dari emas,barang pecah belah serta barang-barang lainnya ikut bersama Meuligoe Tuan Putri.
Hingga sekarang kebanyakan warga  percaya bahwa kolam Putri Nurul A’la masih menyimpan benda-benda sejarah yang tak ternilai harganya.Salah satu diantaranya adalah perhiasan dari emas. Dalam ejaan Aceh disebut ‘’Ceupeng,, emas sebesar piring makan ukurun kecil  yang dipakai  oleh putri-putri kerajaan tempo dulu.
Di akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an , beberapa warga yang masih keturunan sayid yang bermukim di Bandarkhalifah dan Paya Meuigoe menggali kolam tersebut dengan menggunakan alat galian sederhana,berupa cangkul dan skrop.Tapi karena proses  penggalian memakan waktu yang lama ,maka  mareka harus  menghentikan penggalian disebabkan mareka  kekurangan dana.
Menurut cerita orang tua-tua, pada Zaman Belanda,kolam ini pernah digali oleh warga dan airnya disedot sampai habis denga cara memagari dengan bedeng besar supaya tidak dikikis air. Benar saja para warga mendapati Cuping emas yang dimaksud milik Putri Nurul A’la.Tapi apa lacur,salah seorang warga yang ikut bekerja berkata tidak senonoh ketika Cuping emas sudah berada ditangan. Spontan saja ikan gabus besar tiba-tiba datang dan mendobrak bedeng penyangga air, sehingga air rawa tumpah ruah kembali.Dalam keadaan kaget,Cuping emas ditangan  para pekerja tadi jatuh kembali ke air  dan tidak pernah ditemukan lagi.                                                                                          Masih menurut cerita orang tua-tua, setengah dari pangkal tiang  Meuligoe Tuan Putri tersandar di bibir kolam, dan  setengah  lagi  tercebur  kedalam  kolam. Disinilah               warga         setempat   mencari   ikan   rawa  yang   banyak   berdiam  dibawah                   tiang        Meuligoe.
Pemandangan tiang Meuligoe  ini masih dapat dilihat jelas sampai tahun 1960-an.
Tapi lama kelamaan,seiring dengan perjalan waktu,tiang Meuligoe tersebut makin turun kebawah  lalu  terbenam  kedasar kolam  hingga  tidak  dapat  dilihat  lagi  sampai  sekarang.
Keanehan  terakhi dari Meuligoe  Putri  Nurul  A’la sebelum terjun  ke kolam terlebih  dahulu 
Meuligoe tersebut mengeluarkan suara aneh berupa raungan keras dimalam hari, sehingga seluruh dayang-dayang  penjaga istana terpaksa mengungsi karena takut.
Apalagi  istana Tuan  Putri  telah  lama   kosong ,karena  Putri Nurul  A’la  secara  diam – diam meninggalkan  istananya pergi menuju ke Peunaron dan selanjutnya bersembunyi di bukit Dayang-dayang di Teupin Tualang Reubah beberapa lama. Ini dilakukan guna menghindari desakan dari Pangeran Prabu Tapa yang tinggal pada Perguruan Tinggi Islam  Buket Cibrek.
Kemudian  Putri  Nurul  A’la  turun  ke Seumanah (Krueng Tuan). Disana  Ia  membuat  Istana
Dari  Batu  untuk bertapa. Istana  batu  tersebut  diperkirakan  menampung  puluhan  orang.
Ditempat lokasiMeuligoe Tuan Putri,setelah 15  malam  mengeluarka  suara- suara  aneh,  kadang-kadang  suara  raungan  keras,Kadang juga suara suling,rebana ,rapa’i atau cahaya terang benderang. Dan pada kamis malam,bertepatan tanggal,08 Muharram th.533 H.Cuaca gelap  gulita, angin ribut, suara gemuruh petir saling bersahutan dilangit  Paya Meuligoe.Suara Meuligoe Putri Nurul A’la semakin keras. Meuligoe Tuan Putri berputar-putar di udara dan akhirnya terjun kedalam kolam.Bersamaan dengan meninggalnya Putri Nurul A’la. Putri Nurul A’la dimakamkan di Krueng Tuan,08 Muharram tahun 533 H.
Bekas  kolam  Pemandian  Putri Nurul A’la di desa Paya Meuligoe Kec.Perlak - Aceh Timur sedang dipugar,tanggal. 02- 10-2013. Posisi terbenamnya Tiang  Meuligoe Tuan Putri tepat pada belokan kekiri,(lihat
gambar). Foto. Sentral Informasi Bandarkhalifah|sinba. Tanggal.  02-10-2013                                                                                                                                                                                                                                
Walau sudah berlalu ratusan tahun silam,kolam Putri Nurul A’la ini masih menyisakan berbagai hal  diluar logika, tapi benar adanya. Pada  konflik  Aceh  dengan  RI dulu  misalnya,
beberapa anggota GAM   yang terjebak ketika operasi TNI secara mendadak  ke Paya Meuligoe. Mareka bersembunyi dipinggir kolam yang hanya ditutupi semak-semak kecil yang tembus pandang dari jauh dan  berjarak hanya 20 M dari jalan yang dilalui TNI.Tapi mareka semua aman tanpa bisa dilacak.
Perempuan yang mengalami kesulitan  saat melahirkan  yang bermukim jauh diluar  desa Paya Meuligoe.Suaminya datang kekolam dan mengambil air rawa yang terbilang kotor lantas  diberikan kepada sang isteri. Alhamdulillah, isterinya segera dapat melahirkan  dengan lancar tanpa ada efek lainnya.
Bahkan ada upaya-upaya dari beberapa warga yang mencoba mengangkat  barang-barang berharga peninggalan  Putri Nurul A’la dari dasar kolam ke daratan dengan menggunakan ilmu  majic. Hal ini sudah  berlangsung lama dan masih berlanjut sampai sekarang. Kebanyakan mareka datang dari luar daerah(luar desa) dan ada juga yang berasal dari desa setempat sendiri.                                                                                      
Bahkan di sepanjang sungai Perlak  didalam nya banyak terdapat benda-benda bersejarah yang masih tersisa,baik yang sudah terbenam kedalam tanah didasar sungai maupun yang masih ada didasar sungai.Di sungai sepanjang kedai  Perlak misalnya, dinyakini  terdapat barang-barang peninggalan Putri Nurul A’la.Barang-barang peninggalan tersebut tertinggal ataupun jatuh ketika Putri Nurul A’la menambatkan bahteranya di sungai Blang Bitra,dekat kedai Perlak sesudah menjemput abangnya di pulau Jawa.Barang-barang tersebut diduga tertinggal di kapal atau tercecer ke sungai.
Menurut  keterangan penyelam  yang sering menyelam disekitar aliran sungai  tersebut  untuk mencari sisa-sisa barang rongsokan dan  kerang sungai,pernah menemukan sebuah peti besi yang masih utuh lengkap dengan kunci kuningan dan rantai  besar.Tapi aneh nya barang tersebut sering berpindah -pindah tempat.   Padahal ketika diderek dengan menggunakan alat secara sederhana memakai rantai,peti tersebut tidak bergerak bahkan rantai derek putus,(sekitar tahun 2000-an)
Barang –barang tersebut ada yang berpendapat kepunyaan moyang dari Teungku Chik Perlak  yang bermukim di desa Tualang sekarang.Tapi kuat dugaan peti tersebut kepunyaan Putri Nurul A’la.Karena peti besi tersebut ada kemiripan dengan peti besi yang ada di sepanjang aliran sungai Alue Meuh,(desa Paya Meuligoe).Berdekatan dengan makam Sulthan  Perlak ke11,( Sulthan Ahmadsyah).Peti besi itu juga punya keanehan yang sama,yaitu berpindah-pindah tempat,tapi kedua peti besi tersebut tidak pernah  meninggalkan kawasan yang menjadi  tempat aslinya.            Dan masih banyak kisah-kisah aneh lainnya yang tak mungkin penulis sebut satu persatu disini

Makam Putri Nurul A’la di Kreung Tuan,Perlak.
Sumber Sentral Informasi Bandarkhalifah|sinba,tgl.14-05-2015.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar